BBM Naik, Omset Penjual Jamu Turun

Agrita Yuniarti Wijaya, penjual jamu racikan tradisional di Pasar Keputran Surabaya mengaku bahwa kenaikan harga BBM membuat omsetnya turun hingga 50 persen. Menurutnya, ini disebabkan harga bahan baku jamu racikannya ikut meningkat dan jumlah pelanggan yang mengkonsumsi jamu pun mulai berkurang.

Sebelum diberlakukannya harga BBM yang baru pada 24 Mei 2008 lalu, ibu tiga putra ini bisa meraup untung seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah per harinya. Namun beberapa waktu terakhir, dia hanya mampu meraup keuntungan sebesar 60 – 70 ribu rupiah per hari.

“Dulu sebelum BBM naik, kalau sepi biasanya 100 ribu sehari, kalau ramai bisa 150 ribu sehari. Tapi sekarang dengan harga bahan baku yang juga naik, kalau kondisinya ramai, paling-paling dapat 90 ribu. Kalau sepi hanya 60 – 70 ribu sehari,” kisah ibu tiga orang putra ini saat ditemui di kios jamunya, Kamis (14/8).

ramuan jamu tradisional

ramuan jamu tradisional

 

Untuk jamu racikan tradisional misalnya, Grita memakai bahan-bahan dari tanaman obat yang telah dikeringkan. Sebagai contoh daun sambiroto, daun brotowali, daun mimbu, jahe, kedawung, kemukus, lada hitam, cabai dan lain sebagainya. Berbagai jenis tanaman herbal tersebut, nantinya akan disajikan dengan cara direbus sesuai dengan pesanan pelanggan. Selain dengan direbus, dia juga menyediakan jamu yang telah ditumbuk atau digiling yang komposisinya telah disesuaikan dengan jenis sakit yang diderita.

 

Dengan ramah, wanita berusia 36 tahun tersebut menjelaskan masing-masing tanaman herbal yang dia peroleh dari Kediri dan Pasar Pabean beserta manfaat dan kegunaannya. “Kalau untuk capek-capek, biasanya pakai daun mimbu, brotowali, sambiroto, dan jahe,” kata Grita.

 

Apakah Anda Suka Minum Jamu Tradisional? Berikan Komentar Anda

~ oleh surabayamice di/pada Agustus 14, 2008.

Tinggalkan Balasan