30 Tahun Bertahan Dagang Semangka

Surabayamice-Hj Sukriyah (54th) asli Bangkalan, Madura bertahan hidup di Surabaya dengan berjualan buah semangka sudah 30 tahun. Hasil jualan buah ini mereka bisa menyekolahkan empat anaknya hingga lulus perguruan tinggi.

Hidup di Surabaya perlu perjuangan dan harus mempunyai semangat hidup. Jika hal itu tidak kita punyai kami sudah gulung tikar sejak dulu.

“Bisa bertahan dagang buah hingga 30 tahun, karena kami menerapkan kejujuran,” ujar Sukriyah ditemui di Pasar Keputran Surabaya, Kamis (14/8).

Selain semangka di bedakkami juga berjualan pepaya, melon, dan garbis. Meski bahan bakar minyak (BBM) naik beberapa waktu lalu, sempat harga buah tidak stabil sehingga hasil penjualan menurun.

“Sebelum BBM naik kami berjualan per harinya menghasilkan Rp 500 ribu tapi sekarang hanya Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per hari,” keluhnya.

Kami sekeluarga bersyukur, dengan hasil jualan ini dapat menyekolahkan empat anak saya hingga perguruan tinggi. Di antaranya Abdul Fathoni (30th) lulusan Universitas Darul Ulum Jombang dan Siti Fatimah (28th) lulusan Pondok Pesantren Modern di Gontor, Ponorogo.   

Sukriyah mengharapkan, pemerintah ke depan tidak menaikkan BBM lagi. agar hasil penjualannya tidak menurun.

Sempat Pindah Haluan

Lain lagi dengan Suparto (47th) pedagang kelapa, dimana dirinya sempat pindah haluan dari pedagang kelapa menjadi makelar sepeda motor. Ini dilakukan karena pengaruh BBM naik dan kami tidak pintar mengurus manajen keuangan.

Tapi hanya dua bulan kami bertahan menjadi makelar, setelah itu kami kembali berjualan kelapa karena dorongan istri saya ( Sulastri).

“Kami berterimah kasih kepada istriku dengan kesabarannya dapat kembali berdagang kelapa sampai saat ini,” ujarnya

~ oleh surabayamice di/pada Agustus 14, 2008.

Tinggalkan Balasan